SANANA - Seperti kota Ternate,  Kepulaun Sula kini juga memiliki batik khas daerahnya. Motifnyapun masih tetap mengangkat khas daerah tersebut seperti batu,  hewan dan tumbuhan. Kemarin (22/3) puluhan pembatik lokal yang telah dilatih membatik mulai melukis, menyulam dan mewarna. Wansosa,  kenawahi,  kenatukareg,  fatfenakoa menjadi ciri khas.
Kepala Bidang Ekonomi TTG SDM, BPMD Kepsul Rabea Hi.  Soleman menuturkan,  pembuatan batik khas Sula sendiri merupakan program Bupati Sula usai mengikuti kegiatan Kebudayaan yang berlangsung di Jakarta. Menurutnya,  Sula sendiri memiliki budaya dan sejarah, hanya saja budaya tersebut belum diangkat secara masif misalnya, pakaian adat yang saat ini masih menggunakan pakaian adat Ternate. "Makanya Bupati ingin Sula juga punya sesuatu yang khas daerah Sula seperti batik ini,  "ujarnya.
Dijelaskannya,  awalnya pihaknya melakukan survei adat dan budaya Sula di beberapa desa yang masih kental dengan budaya leluhur. Dari hasil survei tersebut kemudian di isi dalam motif sula maupun pakain adat yang nantinya akan diajukan ke Kementrian Kebudayaan sebagai budaya khas lokal Sula.  "Ada saran dari pusat, jadi pa Bupati tertarik dan kembali dari Jakarta kita langsung aksi dengan koordinasi dengan pembatik maupun desainer,  "ujarnya. 
Saat ini, kata Rabea kegiatan membatik sendiri sudah berlangsung sejak 4 bulan terakhir. Bahkan hasil batik tersebutpun mulai siap dipasarkan. "Sekarang sudah ada hasil dan peserta kita juga sudah bisa membuat batik sendiri,  "katanya.  Dia mengaku,  batik Sula sendiri rencananya akan di launching bersamaan dengan kegiatan mancing mania. Bahkan lanjutnya,  desain batik sendiri sudah mulai ada yang memesan. "Yang kita inginkan nanti putri Indonesia yang akan memperagakan,  "katanya.
Sementara konsultan Batik Lenny Agustin mengaku saat pertama survei, Sula sendiri tidak memiliki kain khas ataupun batik khas daerah maupun pakaian adat. "Dan sekarang sudah ada jadi kita tidak ingin ini sampau disini tapi harus terus berlanjut,  "ujarnya. 
Dikatakannya, melalui pelatihan tersebut pihaknya sendiri telah mendesain lebih dari 20 motif batik yang telah didesain. Bahkan dia mengaku membantu menyiapkan pasar agar batik khas Sula tetap bertahan. "Dan sekarang saya juga sudah membuat pakaian adat khas Sula dengan tetap melihat sejarah dan pakaian khas di daerah Maluku juga,  "ujarnya. 
Terkait pengembangan dirinya juga bersedia mempromosikan batik Sula ke Bangkok,  Thailand sebagai langkah awal membumingkan batik Sula.  "Disini juga banyak tumbuhan maupun hewan khas ini yang kita pakai biar tidak sama dengan daerah yang lain,  "pungkasnya.  (ikh)